Hari ini Surabaya hujan, hari itu juga hujan. Hujan rintik, deras, gerimis. Kala hujan, aku selalu berpikir, kenapa suasana hujan bisa begitu menenangkan, bahkan ketika gemuruh dan petir menyambar, bahkan ketika hujan itu deras. Yang paling aku suka dari hujan itu bau basah dari tanah, pelangi yang biasa muncul sehabis hujan, dan hawa dinginnya hujan yang terasa menyenangkan daripada merasakan panasnya Surabaya setiap harinya.
Oia, hari itu juga hujan. Hari itu, aku juga merasakan hawa dinginnya hujan yang itu, yang biasanya. Kemudian hari ini teringat hari itu, puisi itu, puisi hujan itu. Datangnya dari seorang sahabat, yang sama-sama merasakan hawa dinginnya hujan hari itu. Sahabat itu mengirim sebuah pesan singkat, bercerita tentang hujan.
rintik-rintik air turun,
perlahan,
jatuh..
semakin lama semakin cepat,
terus jatuh..
menjauhi langit,
menuju bumi,
hingga tiap butirannya pecah,
membasahi daerah-daerah,
dingin menjarah,
lembab menjajah,
suhu merendah,
panas menyerah,
basahi hati yang gundah,
padamkan amarah,
ah..
kesejukan melanda,
mengusir gerah..
Hujan
oleh : arman
Surabaya, 20 desember 2007, 17:00
Bagus gag puisinya? siapa dulu dong..
bukan aku yang jelas.. hohoho.. 








Posted by Ghani Arasyid on December 13, 2008 at 7:03 pm
Narsis banget di akhir kata2
Posted by safirsyifa on December 15, 2008 at 8:35 am
@ Ghani Arasyid –
hehehe..
memang diriku ini terdiri dari sekian persen kenarsisan.. yang jelas ada..