Posted by: safirsyifa on: February 18, 2012
Assalamu’alaykum..
Kembali posting dalam bahasa Indonesia, kali ini ingin posting mengenai sebuah buku milik bapak, judulnya Saat-saat Rasulullah & Sahabat Menangis. Buku ini Edisi Indonesia karya Majdi Muhammad As-Syahawi. Judul aslinya Mawaqif Baka fiiha An-Nabi wa Ash-Shahabah. Semoga bermanfaat. Mungkin di waktu akan datang, akan ada postingan lain dari buku lain yang lagi-lagi punya bapak. Mari mulai..
Jika dilihat dari sebab dan tujuannya, tangisan dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian, yaitu:
Terkadang, ada juga orang yang kondisinya tidak membuat ia harus menangis, namun ia berusaha sekuat mungkin untuk menangis. Tangis seperti ini terbagi menjadi dua, yaitu:
Apa yang membedakan antara kedua tangis di atas?
Sementara tangis yang dicela dalam kacamata agama adalah tangisan seseorang yang dilakukan karena mengharapkan pujian makhluk.
Ada juga beberapa tangisan yang dianjurkan dalam agama.
Diriwayatkan dari Aqabah bin Amir radhiallahu ‘anhu (Arabic: رضي الله عنه), ia berkata, “Saya pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang sikap yang akan membawa kepada keselamatan.” Rasulullah SAW menjawab,
“Kendalikan lisanmu, jadikanlah rumahmu luas (dalam menerima tamu) dan menangislah karena meratapi kesalahan yang pernah kamu lakukan.”
- HR. Imam Ahmad. 5/259. At-Tirmidzi. 2406.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu disebutkan
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan dari Allah SWT dihari yang tidak ada satupun naungan saat itu …”
Diantara salah satu golongan yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mendapatkan perlindungan tersebut adalah,
“Seorang laki-laki yang berdzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala (Arabic: سبحانه و تعالى) dalam kesendirian, kemudian air matanya berlinang membasahi pipinya.”
- HR. Bukhari. 660. Muslim. 1031. At-Tirmidzi. 2391.
Diriwayatkan oleh Anas bin Malik radhiallahu ‘anhu,
Sesungguhnya Rasulullah bersabda,
“Barangsiapa yang berdzikir mengingat Allah subhanahu wa ta’ala, lalu air matanya berlinang karena rasa khusyu’ dan takut kepada Allah subhanahu wa ta’ala, kemudian butiran air mata tersebut jatuh membasahi bumi, maka di hari kiamat nanti, Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mengadzab orang tersebut.”
- HR. Al Hakim. 4/260.
Keinget bapak seringkali bilang, ndak boleh banyak ketawa atau ketawa berlebihan.
Intermezzo: ditengah posting, ibuk ngasih 1 piring nasi uduk sama ayam ungkep, masih panas. Sipp.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Darda’ radhiallahu ‘anhu disebutkan,
Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Jika kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan banyak menangis dan sedikit tertawa. Dan, kalian akan keluar menuju tempat yang tinggi untuk meyerahkan diri kepada Allah subhanahu wa ta’ala, sementara kalian masih belum tahu, apakah kalian akan selamat atau tidak.”
- HR. Al Hakim. 4/320.
Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah ketika menerangkan tentang tangisan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memiliki sisi-sisi kemanusiaan. Beliau mengalami kesedihan seperti beliau juga mengalami kegembiraan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang menangis, namun menangisnya beliau sama dengan tertawanya, artinya; tangisan beliau tidak pernah berlebihan. Tidak pernah beliau menangis sampai meraung-raung. Seperti beliau tidak pernah tertawa hingga terbahak-bahak. Di saat mengalami satu kejadian yang menyedihkan, air mata beliau berlinang membasahi pipinya yang mulia dan terdengar nada kesedihan dari gerak dadanya.”
Subhanallah. Semoga bermanfaat. Bersambung: Menangis (2)