Trimester Pertama Bagian II

#SeriKehamilan

Setelah kunjungan pertama pemeriksaan kehamilan, pemeriksaan selanjutnya adalah dua minggu kemudian.

Mendaftarkan kehamilan ke pemerintah kota dan mendapat buku saku

Setelah dari dokter, kami mengira akan mendapat semacam surat keterangan dokter tentang kehamilan, tapi ternyata tidak. Kami cukup ragu waktu kembali ke hokenfukushi center (bagian kesejahteraan masyarakat termasuk kesejahteraan ibu hamil dan anak) untuk mendaftarkan kehamilan saya. Sesampainya disana, kami hanya ditanya apakah sudah ke dokter dan kami menjawab sudah di rumah sakit Aiiku minamirinkan, staf pun langsung melanjutkan prosedur pendaftaran kehamilan termasuk pemberian boushi techou dan kartu diskon pemeriksaan kehamilan.

Selain didaftar tentang kehamilan, kami dibekali sebuah buku saku, buku yang akan kami perlukan sampai anak mencapai usia bangku sekolah dasar (SD). Inilah buku yang juga berlaku sebagai akta lahir nantinya, boushi techou, begitu singkatannya. Karena kami berdua foreigner dan tidak pandai bahasa Jepang, maka kami diberi buku versi bahasa Inggris.

Boushi techou menyediakan halaman-halaman tentang record kehamilan ibu, event kelahiran dan kesehatan anak sampai usia 6 tahun. Selain record yang akan diisi, banyak informasi perkembangan bayi dan anak yang dimuat di buku tersebut, misalnya informasi perkembangan berat badan dan tinggi anak, dan informasi perkembangan motorik bayi. Juga dimuat kosakata medis dalam bahasa Jepang dan bahasa Inggris di bagian akhir.

Saya banyak belajar dari buku ini. Secara tidak sengaja, nantinya setelah menjadi ibu, sang ibu mendapat pengetahuan tentang tumbuh kembang anak dengan mengisi buku ini, yaitu menulis record kesehatan anak. Contohnya, pada usia 6 bulan maka ada pertanyaan tentang perkembangan bayi usia 6 bulan. Jika usia bayi belum mencapai 6 bulan, maka kita bisa mengira-ngira bagaimana perkembangan bayi usia 6 bulan. Buku ini juga sebagai bentuk edukasi untuk calon ibu maupun ibu.

Nah, yang saya dengar, setiap kota di Jepang memberikan diskon (potongan harga) untuk pemeriksaan kehamilan, menurut saya, selain memajukan kesejahteraan masyarakat, hal ini juga mendorong pertumbuhan angka kelahiran. Meskipun begitu, tetap juga yang saya dengar bahwa Jepang masih krisis angka kelahiran per tahunnya. Ketika rumah sakit yang dipilih adalah rumah sakit swasta pun seperti saya, tidak jarang saya membayar biaya pemeriksaan sangat murah bahkan gratis. Biaya pemeriksaan melambung hanya jika ada tes-tes khusus selain pemeriksaan rutin dan konsultasi dokter. Perlu saya ingatkan bahwa, diskon ini pun berlaku tidak terkecuali untuk orang asing yang tinggal di Jepang, termasuk saya.

Terakhir yang saya dengar dari senpai saya disini yang mau melahirkan di rumah sakit yang sama, dari awal sudah diberi rincian biaya pemeriksaan kehamilan secara detail. Kira-kira kalau full sampai due date tidak lebih dari ¥180,000. Ini hanya biaya pemeriksaan kehamilan ya, diluar biaya melahirkan. Tentu saja perlu diingat bahwa rumah sakit ini rumah sakit swasta yang cukup punya nama. Pada saat masa kehamilan saya yang lalu, biaya pemeriksaan kehamilan tidak lebih dari ¥90,000 (sudah dapat diskon).

Kunjungan kedua

Pada usia kehamilan 10 minggu kami kembali memeriksakan kandungan saya. Kegiatan pengecekan rutin terdiri dari 3 kegiatan standar, yaitu tes urin, pengukuran berat badan dan pengukuran tekanan darah. Dari kunjungan pertama, dokter belum yakin benar dengan usia kandungan, sehingga kali ini hasil pemeriksaannya adalah perkiraan usia kandungan yaitu 10w5d (baca: 10 minggu 5 hari) dengan hari perkiraan lahir (HPL) atau due date 2 Januari 2015. Kunjungan kali ini juga ada tes darah, sehingga ada pengambilan sampel darah.

Pada kunjungan ini juga kami mendapat waktu khusus berbicara dengan kepala perawat (Y-san) yang fasih berbicara bahasa Inggris. Beliau menjelaskan kepada kami tentang sistem rumah sakit. Sangat lega dengan mengetahui informasi ini.

Perlu diketahui bahwa setiap rumah sakit di Jepang memiliki sistem rumah sakit yang berbeda-beda. Misalnya saja, setelah kelahiran, dalam beberapa hari rawat inap di rumah sakit, ada rumah sakit yang mengizinkan bayi satu ruangan dengan si ibu, ada yang membuat jadwal kunjungan ibu bertemu bayi di ruang bayi saja. Serta kebijakan-kebijakan lain yang bisa berbeda pada setiap rumah sakit bersalin. Rumah sakit Aiiku minamirinkan ini pun bukan rumah sakit umum melainkan rumah sakit khusus obstetrics (bersalin) dan gynecology (kewanitaan).

Kunjungan ketiga

Kunjungan ketiga adalah kunjungan terakhir di trimester pertama kandungan saya. Hasil tes darah yang lalu diberitahukan pada kunjungan ketiga ini. Saya berada di usia kandungan minggu ke-15 (2 bulan lebih). Kali ini, saya juga mengikuti pemeriksaan kanker cervix.

Satu lagi pemeriksaan yaitu pemeriksaan menggunakan electrocardiogram (ECG) yang memonitor kinerja jantung. Kali ini ada yang mengganjal I sensei dari hasil ECG saya, sehingga saya disarankan untuk memeriksakan lebih lanjut ke rumah sakit spesialis jantung. Rasanya serem ya kalau ada apa-apa dengan jantung kita.

Yamato seiwa hospital minamirinkan

Di rumah sakit inilah kami menggunakan surat rekomendasi dari I sensei untuk memeriksakan lebih lanjut kesehatan jantung saya. Beberapa kali kami datang kemari untuk pemeriksaan, hampir seluruh event pembayaran berakhir dengan gratis atau sangat murah. Pelayanannya ramah dan mudah, meskipun kami orang asing (dan cuma lulusan N5).

Kunjungan pertama ke rumah sakit ini terkesan kagok karena mayoritas pasien yang mengantri pemeriksaan adalah orang tua. Ada mungkin beberapa pasien yang masih cukup muda tapi masih orang dewasa. Kalau pun banyak yang masih muda, mereka hanya keluarga yang menemani pasien yang sudah tua. Jadi sungkan karena saya masih dibawah umur 30 tahun sudah jadi pasien.

Dokter yang memeriksa kami membaca surat rekomendasi dari I sensei dan menyarankan tes ECG ulang di rumah sakit tersebut. Total empat kali kami berkunjung ke sini. Pertama tes darah dan tes ECG. Nah, seingat saya hasilnya baik-baik saja, namun untuk memastikan lebih lanjut, pada kunjungan kedua mobile ECG dipasangkan ke tubuh dan saya pakai dalam waktu 24 jam. Sehingga, aktifitas jantung akan terekam dalam waktu seharian. Kemudian kunjungan ketiga adalah pelepasan mobile ECG. Terakhir kunjungan keempat adalah hasil tes mobile ECG, alhamdulillah jantung normal. Maka nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan?

  

Tes TOEFL iBT di Jepang – Daftar, Bayar, Tes

Sebelumnya, saya pernah menulis sebuah post tentang tes TOEFL, disini. Kali ini, saya juga ingin menulis kembali pengalaman tes TOEFL saya, tapi di Jepang. Semoga bermanfaat.

 

white sakura

 
Langkah-langkah tes TOEFL iBT yang saya ambil:

  • Membuat atau mempunyai akun di website ETS
  • Mendaftar tes TOEFL iBT online dan membayar biayanya melalui credit card
  • Melakukan tes TOEFL iBT

Sayangnya kali ini saya tidak menjelaskan secara detail tentang poin pertama karena pada saat itu saya masih memiliki akun lama saya yang isinya cuma pernah order tes TOEFL iBT sekali. Silakan membuat akun sendiri di website ETS.

Untuk poin kedua pun, kira-kira secara umum prosesnya cukup mudah. Secara garis besar yaitu memilih order tes TOEFL iBT, memilih tanggal tes, memilih tempat tes, dan membayar tagihannya. Memilih tempat tes di Jepang ini yang menurut saya adalah hal yang tak kasat mata. Karena mungkin kita tidak tahu bagaimana kondisi dan fasilitas tempat tes. Mungkin kalau ditelusuri lebih lanjut, kita bisa menghubungi tempat tes untuk survey sebelum memilihnya.

Karena saya bukan penduduk Jepang, sehingga saya merasa perlu mendatangi tempat tes sebelum hari tes untuk memastikannya. Supaya pada hari tes, saya tidak mencari-cari tempatnya lagi yang mungkin berakibat tersesat atau terlambat. Sedih kalau terjadi, kasihan yang sudah bayarin tes saya. Sayangnya saya cek tempat tes setelah mendaftar online dan juga tidak menanyakan informasi apapun ke tempat tes. Jadi saya cuma numpang lewat aja waktu itu.

Intermezzo

Tidak beberapa lama dari tes TOEFL tersebut, ada sebuah email mengenai customer survey untuk tes TOEFL terakhir. Sayang sekali saya tidak hanya mengisi saran namun juga kritik. Tempat tesnya lah yang menjadi masalah. Saya jelas membandingkan dengan pengalaman saya yang lalu sebelum tes kali ini. Yang lalu, fasilitas tempat tes yang diberikan hampir memuaskan (hanya minus di pendingin ruangan yang terlalu dingin dan saya bisa mengatasi ini sendiri dengan memakai jaket). Satu orang peserta tes berada di ruang kecil yang tenang terpisah dari peserta tes yang lain. Namun kali ini, satu ruangan tes terdiri dari belasan peserta tes (seingat saya belasan) sehingga sangat mengganggu dengan masing-masing suara ketikan keyboard komputer. Juga pengawas tes yang cukup sering lalu lalang mengawasi peserta tes yang berjumlah belasan. Serta gangguan yang amat sangat mengganggu ketika peserta tes lain sampai pada soal speaking. Masih terdengar cukup jelas pembicaraan peserta tes lain meskipun saya memakai headset besar seperti model headset gamer. Maaf, tapi saya tidak cocok dengan tempat tes di daerah Sagamiono ini.

Sekian. Semoga lain kali saya diberi waktu untuk posting tentang tes TOEIC di Jepang.

Fruits of Japan supermarket

Banana is everyone’s favorite. Available all seasons. The cheapest fruit. I will not question its benefits. I remember that I have ever bought banana which comes from Philippines and Equador. Rarely from Indonesia.

Apples. One. Three in a pack. Five in a pack. Big pack. Red. Green. Fuji. Crisp, moist, taste good. Toddler finger food.

Kiwi. I only encountered New Zealand kiwi. The gold (yellow) kiwi is sweet when you save it several days at room temperature.

Mikan (mandarin oranges) sometimes sweet and juicy, sometimes sour, sometimes dry. Samples are helpful.

Small oranges that you can eat as a whole. Yes, eat it with its orange peel. I forget the name. Only available around winter-spring? Around 1 inch for its diameter.

Sunkist are seasonal fruit here. Before summer, I remember. Good when they are raw, juiced, marmalade or in agar.

Strawberries are mostly available around winter and early spring. There are small strawberries and big strawberries. Sometimes sweet, sometimes sour. Choose the red one and eat soon.

Watermelons are mostly available in summer. But you may find it in spring too. Or slightly in winter. In my opinion, always too pricey. Over ¥1000 for a small one. It’s ten times more expensive than in my hometown.

One day at this month, I bought honeydew melon (ハネデューメロン). Juicy! Eat it as it is. I recommend to wait for several days outside refrigerator.

Pineapples are sweet and sour here. Sour at my university’s cafeteria. Sweet at supermarket, haha. Not pure sweet though, a bit refreshingly sour.

Mango. Mexican mango, the one I’ve tried after almost three years stay at Japan. Truly sweet. Too expensive compared with at my country, that’s why I never had bought it before. My home (in my hometown) has one mango tree and its fruits are sweet in its harvest time.

Peaches are great. Sweet and fresh. Good for pie and cake. Available around summer.

Fig only available at its harvest time. I bought once. Buy fig on the same day you eat it.

Cherry! I bought the sour one. But I think it’s good to try, for someone who never eat raw cherry before, haha. Sugary pickled cherry.

Blueberries grow here. I bought them  at a traditional senior citizen shop and made a blueberry juice. Fresh and a little bit sour. Only available at its harvest time. Around spring and summer.

Lemons are available all the time since it’s great for cooking. Make a sauce with it. Don’t forget to put the peel too. Also nice for lemon tea. Don’t let them spoil, please.

Tomatoes. Buy big red tomatoes. Watery, juicy, delicious. Nice for sambal. Buy cherry tomatoes. Fresh and sweet. But it’s too expensive compared to my country.

And still so many more fruits sold at supermarket, local fruits and imported fruits.

Resep panekuk (pancake)

“Panekuk!” Begitulah kata yg diingat suami dalam salah satu scene komik donald bebek.

Panekuk (pancake)

Sudah lama ingin mencoba resep panekuk, tapi akhirnya baru dieksekusi minggu lalu karena mencari ide snack si kecil.

Resep ini berawal dari resep di Allrecipes.com. Dari resep ini, saya berhasil recook resepnya. Resepnya tidak manis, tidak asin, benar-benar resep panekuk dasar. Peluang untuk modifikasi resep sangat besar. Saya juga sudah mencoba dengan tambahan buah stroberi dalam adonan, dan buah pisang dalam adonan, juga ditambah mentega dan madu dalam penyajian. Pada akhirnya, saya memodifikasi resepnya menyesuaikan dengan citarasa keluarga. Mari melihat resep yang sudah saya modifikasi.

Alat

  • 2 mangkuk stainless steel ukuran sedang
  • 1 alat kocok balloon whisk ukuran sedang (untuk adonan kering dan adonan utama
  • 1 alat kocok balloon whisk ukuran kecil (untuk adonan basah)
  • 1 sendok sayur
  • Wajan anti lengket minimal ukuran 20cm
  • Pembalik

Bahan adonan kering

  • 1 cup tepung terigu
  • 1 sdm gula pasir (2 sdm untuk adonan manis)
  • 1 sdt baking powder
  • 1/4 sdt soda kue
  • 1/4 sdt garam
  • 1/4 sdt vanilla powder (boleh tidak diberi)

Bahan adonan basah

  • 1 butir telur
  • 1 cup susu sapi cair (bisa diganti air)
  • 2 sdm minyak sayur (saya pakai minyak kanola)

Cara membuat

  • Campur adonan kering dalam satu mangkuk, buat kawah di tengah-tengah, sisihkan.
  • Di mangkuk terpisah, kocok telur sampai merata, berwarna kuning pucat dan sedikit berbuih. Kemudian masukkan susu, kocok lagi. Terakhir masukkan minyak sayur, kocok lagi.
  • Masukkan adonan basah di kawah adonan kering sedikit demi sedikit sambil diaduk pelan. Lanjutkan sampai semua adonan basah habis. Aduk memutar dari tengah-tengah mangkuk menuju pinggiran mangkuk. Aduk sampai merata sehingga tidak ada tepung yang masih menggumpal.
  • Panaskan wajan dengan sedikit minyak sayur pada api kecil-sedang, tunggu sampai benar-benar panas. Masak adonan seukuran sendok sayur. Balik panekuk dengan pembalik ketika pinggiran sudah terlihat coklat, sudah banyak bubble yang terbentuk dan tinggal sedikit adonan di bagian atas yang belum matang. Sekitar 1-2 menit. 
  • Masak adonan satu per satu seukuran sendok sayur. Berikan minyak sayur lagi pada wajan setiap kali memasak satu ukuran adonan.

Adonan untuk 3-5 lembar panekuk, tergantung ukuran diameter dan ketebalan. Rasanya tidak terlalu manis. Plain. Tinggal makan dengan buah kesukaan, mentega, madu atau susu. Selamat mencoba.

Catatan modifikasi:

  • Soda kue saya kurangi dari resep asli karena menurut saya dan suami, soda kuenya terlalu banyak sehingga terasa pahit getir.
  • Saya pernah mencoba mengganti 1 cup susu dengan 1/4 cup susu dan 3/4 air karena persediaan susu habis. Kemudian rasanya tidak terlalu banyak berubah.

Saya juga membuat versi terang bulan (martabak manis) dari resep ini. Tinggal ditaburi topping kesukaan. Kacang almond, kacang mete, kacang tanah, coklat, keju, meses sesuai selera.

  

Trimester Pertama Bagian I

#SeriKehamilan

InsyaAllah kali ini, saya ingin menulis pengalaman kehidupan lagi. Semoga bisa menjadi manfaat bagi pembaca sekalian.

Topik yang saat ini ingin saya angkat adalah kehidupan di Jepang diluar cerita kuliah saya (meskipun nanti juga sedikit-sedikit diceritakan), yaitu perjalanan kehidupan seorang calon ibu.

*****

Tidak pernah terbersit di benak saya sebelumnya, bahwa saya sudah berstatus ‘menikah’ saat kuliah program Master di Jepang. Apalagi status yang lebih dari itu, ‘ibu’. Kira-kira hanya dua bulan, masa ketika suami dulu mulai mengutarakan niat serius untuk menjadikan saya sebagai istrinya dengan jadwal keberangkatan saya ke Jepang pada akhir bulan September 2013. Dengan izin Allah Yang Maha Merencanakan, hari akad nikah sekaligus walimah kami tepat dengan hari wisuda S2 suami saya serta tiga hari sebelum keberangkatan saya ke Jepang. Hanya dalam waktu satu minggu, kami dan keluarga kami merencanakan pernikahan kami. Dikarenakan kontrak kerja dengan sebuah institusi perguruan tinggi di kota tempat tinggal saya, saya dan suami bertemu kembali di Jepang setelah enam bulan berpisah.

Ini cerita tentang ‘suami ikut istri’ dengan makna yang berbeda. Karena suami saya juga berkeinginan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi bahkan sebelum bertemu saya. Subhanallah, Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu menggariskan hal yang demikian kepada kami.

Kuliah tahun pertama dan mengandung (hamil). Tepatnya bulan April kami mengetahui berita gembira itu, kami insyaAllah pasrah dan tawakal saja dengan rencana Allah terhadap rumah tangga kami, dan pada saat itu adalah  kuliah dan hamil. Trimester pertama ini kami jalani dengan waktu yang cukup luang karena suami belum memulai studi doktornya. Studi yang universitasnya sama dengan saya, kampus yang sama, bahkan gedung yang sama dengan saya.

Mencari rumah sakit

Urusan-urusan bertambah, ini yang jelas berubah dari keseharian kami. Bertambah dengan urusan mencari rumah sakit, memeriksakan kandungan dan mendaftarkan kehamilan saya ke shiyakusho (kantor pemerintah kota).

Kami muslim, sehingga tentu saja kami ingin mencari rumah sakit yang dapat memberikan fasilitas yang sesuai dengan praktek agama kami. Misalnya menerima saya yang memakai tudung kepala (khimar) dan memahami kebutuhan menu makanan saya (makanan halal).

Sebelum memutuskan rumah sakit mana yang kami pilih, saya utamanya mencari informasi dari senpai-tachi (para senior) yang sudah berpengalaman dengan hamil dan/atau melahirkan di Jepang. Alhamdulillah, bantuan Allah tidak lepas dari kami. Beberapa kenalan saya, dari kajian islam akhwat di universitas saya, pernah mengalami hamil dan/atau melahirkan di Jepang. Dari senpai-tachi inilah saya mendapat informasi sebuah rumah sakit langganan yang Muslim-friendly. Namun, rumah sakit tersebut berbeda kota (municipality) dengan kota tempat tinggal kami. Dari awal, saya ragu untuk memilih rumah sakit tersebut.

Dari salah satu senpai-tachi tersebut, disebutlah seorang mantan penghuni apato (baca: rumah kontrakan) kami, dua generasi sebelum kami (jadi ceritanya saya adalah generasi ketiga orang Indonesia yang tinggal di apato tersebut). Ternyata senpai ini pernah hamil dan melahirkan di Jepang, namun memilih rumah sakit yang berbeda kota tersebut. Kemudian saya aktif melakukan kontak dengan senpai satu ini. Meskipun senpai ini beraktifitas menjadi dosen di sebuah perguruan tinggi di Indonesia, namun responnya cepat. Meskipun sudah mengumpulkan informasi dari senpai ini, lagi-lagi saya ragu dengan urusan administrasi tambahan karena perbedaan kota ini, menyangkut waktu, kemampuan fisik saya (rumah sakitnya agak jauh dari tempat saya tinggal), keterbatasan kemampuan bahasa Jepang saya (saya cuma lulusan N5), dll.

Pada akhirnya, saya masih ingin mengusahakan solusi lain untuk rumah sakit yang berbeda. Berbekal kemampuan komputer (sepertinya ini agak berlebihan, karena semakin banyak orang yang mampu), saya browsing sampai menemukan website perawat dan daftar rumah sakit dalam bahasa Jepang (tentu saja dengan tulisan Jepang; kanji, hiragana, dan katakana). Saya hanya mencari rumah sakit di kota saya, supaya tidak terbentur kesulitan adminstrasi tambahan. Dari ratusan testimoni orang Jepang (saya ingatkan bahwa website-nya dalam bahasa Jepang), kami memutuskan untuk mencoba rumah sakit satu ini, Aiiku hospital di daerah minamirinkan.

Mendaftarkan kehamilan ke pemerintah kota

Flashback sebentar ke belakang, pertama-tama, saya mendapatkan informasi dari senpai-tachi bahwa kita perlu mendaftarkan kehamilan kita ke shiyakusho. Ada yang memberikan informasi supaya datang ke shiyakusho sebelum ke dokter, ada juga yang menyarankan supaya datang ke shiyakusho setelah dari dokter. Maka dari itu, saya mampir ke shiyakusho area tempat saya tinggal sebelum ke dokter. Untuk masalah kesejahteraan (hamil, melahirkan, dan tentang anak-anak termasuk bidang kesejahteraan di kota tersebut), saya langsung dialihkan ke gedung lain tidak jauh dari shiyakusho, yaitu hokenfukushi center, bagian yang menangani bidang kesejahteraan masyarakat.

Sesampainya di hokenfukushi center, kami mendapat keterangan bahwa untuk melakukan pendaftaran kehamilan, dibutuhkan keterangan dari dokter yang menyatakan kehamilan, bisa dokter klinik atau dokter rumah sakit.

Sebelumnya, saya berpikir mencari klinik saja, bukan rumah sakit, untuk melakukan pemeriksaan kehamilan rutin sekaligus mendapat keterangan dokter bahwa saya hamil sebagai syarat pengajuan pendaftaran kehamilan. Namun dari salah satu staf di hokenfukushi center, saya mendapat buku yang memuat peta dan informasi klinik dan rumah sakit di kota ini. Sehingga saya juga ingin mempertimbangkan keduanya, klinik dan rumah sakit. Jadi pada akhirnya, sebenarnya tetap bermanfaat datang ke shiyakusho sebelum ke dokter.

Dari daftar yang didapat dari staf kota, saya menemukan beberapa klinik kewanitaan (biasa dinamakan ladies clinic) dan rumah sakit. Pada awalnya, saya menghubungi lewat telepon satu per satu klinik yang ada dalam daftar buku dari staf kota (mohon diingat saya cuma lulusan N5) dengan pertimbangan klinik yang jaraknya tidak jauh dari apato kami, dokternya perempuan dan kemampuan bahasa inggris si dokter. Beberapa kali saya temukan klinik dengan dokter yang mampu berbahasa inggris, namun dokternya laki-laki. Kemudian ternyata tidak sedikit klinik yang hanya menawarkan jasa pemeriksaan kehamilan rutin, namun tidak sampai untuk melahirkan. Ini artinya klinik tidak mempunyai fasilitas rawat inap untuk melahirkan. Tidak seperti rumah sakit yang selalu mempunyai fasilitas rawat inap.

Setelah percobaan pencarian klinik yang belum membuahkan hasil, saya langsung mencoba dengan rumah sakit juga. Kemudian saya mencari informasi juga melalui internet dan menemukan sebuah rumah sakit dengan testimoni pasien yang cukup bagus. Akhirnya kami memutuskan untuk menghubungi rumah sakit tersebut, Aiiku hospital di daerah minamirinkan, yang ternyata memenuhi 3 kriteria kami.

Appointment pertama

Berawal lewat telepon, staf rumah sakit tersebut menyarankan untuk mendatangi langsung rumah sakit. Sedikit intermezzo, kami sempat salah tempat dengan Aiiku ladies clinic. Ternyata, pada lokasi yang berdekatan, ada Aiiku hospital (rumah sakit), Aiiku ladies clinic (klinik kewanitaan), dan Aiiku kodomo clinic (klinik anak).

Kunjungan pertama kami belum sampai pemeriksaan namun hanya mendaftar menjadi anggota dan membuat appointment dengan salah satu dokter perempuan yang bisa berbahasa Inggris, Inoue sensei. Semua saya lakukan dengan bahasa Jepang terbata-bata dan kosakata yang sederhana saja, serta sesekali body language. Dalam keterangan daftar staf di website rumah sakit Aiiku, Inoue sensei memang pernah bertugas di luar Jepang, kalau tidak salah ingat memang English-speaking country.

Isian form untuk mendaftar menjadi anggota (pasien) ternyata cukup menyita waktu. Selain dalam tulisan Jepang, memang isiannya cukup detail. Karena keterbatasan bahasa Jepang saya, saya dipersilakan untuk mengembalikan form pada kunjugan selanjutnya.

Sebelum pemeriksaan pertama, salah satu senpai-tachi (Mbak RMSD) sudah mengingatkan untuk tidak surprised dengan metode pemeriksaan kehamilan di Jepang. Notabene, dalam pemeriksaan awal kehamilan untuk beberapa kali kunjungan pemeriksaan, pemeriksaan memakai metode pelvic examination atau vaginal examination dan menggunakan transvaginal ultrasound. Sehingga sebelumnya saya cukup aware untuk mengedukasi diri dengan metode pemeriksaan ini.

Pemeriksaan pertama (kehamilan minggu ke-8) dilalui dengan pengukuran tekanan darah, pengukuran berat badan, tes urin, dan pemeriksaan ultrasound.

Prosedurnya, datang ke rumah sakit menuju resepsionis. Pada staf resepsionis, saya menginformasikan tujuan cek kehamilan, kemudian administrasi. Saya sempat ditanya tentang alergi yang dimiliki, namun saya jawab tidak ada. Setelah itu, saya diarahkan ke toilet untuk mengawali tes urin. Berikutnya, saya mengukur tekanan darah dan berat badan di lokasi yang sudah diinformasikan sebelumnya. Ini self service-mengukur sendiri dan tidak diberi asistensi. Hasil pengukuran tekanan darah dan berat badan dibawa sambil menunggu panggilan giliran pemeriksaan untuk nantinya diberikan pada perawat yang mendampingi pemeriksaan dengan dokter.

Pertama kali bertemu Inoue sensei, seingat saya Inoue sensei menanyakan saya berasal dari mana. Perlu saya informasikan bahwa sebelumnya saya tidak tahu bahwa rumah sakit ini sudah menjadi langganan muslimah juga.

Pada pemeriksaan pertama inilah Inoue sensei semakin meyakinkan kami tentang kehamilan saya karena sebelumnya hanya mencoba sekali memakai test pack kehamilan. Total 1 jam dari resepsionis sampai selesai pemeriksaan (waktu tunggu dokter juga yang berkontribusi sebentar dan lamanya).

Bersambung..

Pilihan kata kamus singkat dari KBBI:

Tawakal bukan tawakkal
Nikah bukan nikakh
Walimah bukan walimat
Izin bukan ijin

  

365+ days had passed

Winter 2014-2015

My parents came to visit me while I was pregnant. Alhamdulillah. My husband started his doctoral course. I gave birth to her in a snowy day. She liked to sleep, I remember.

Winter 2015-2016

There are not much change in front of our door since we’re moving from the last apartment. The current apartment is warmer. She is one-year-old already, walking, and never went to a hospital for serious illness. I will graduate from Master program this March and end my student status. Alhamdulillah.

Yamato, Kanagawa, 25th March 2016

A tiny UML Review – ICONIX

It’s me on February 2012.

First, I want to apologize for my so so English.

ICONIX

ICONIX

In theory, every single aspect of the UML is potentially useful, but in practice, there never seems to be enough time to do modeling, analysis, and design. There’s always pressure from management to jump to code, to start coding prematurely because progress on software projects tends to get measured by how much code exists.

I partially agree with these. Every aspect of the UML is important as it will be useful. However, clock is ticking. To do a proper modelling and a thorough analysis seems really difficult in practice. We may have no patient and want to jump to design as fast as we can. Hah! Even though management doesn’t really want to see how many line of code we did, but they really want to see something, something in GUI and it works.

ICONIX Process lays down a simple, minimal set of steps that generally lead to pretty good results. These results have proven to be consistent and repeatable over the last 12 years.

Woot! I am not sure whether 12 years later I will still do a project including ICONIX. However, I have confidence that at least if the ICONIX process have been nicely done, it should be good for several years later. Some revisions should be easier to do.

ICONIX Process is divided into dynamic and static workflows, which are highly iterative: you might go through one iteration of the whole process for a small batch of use cases (perhaps a couple of packages’ worth, which isn’t a huge amount given that each use case is only a couple of paragraphs), all the way to source code and unit tests. For this reason, ICONIX Process is well suited to agile projects, where swift feedback is needed on such factors as the requirements, the design, and estimates.

I need to make a statement here. I can not define what exactly agile projects are, haha. Because projects I have done that considered to be agile project does not strictly follow the rules.

The domain model also provides a common vocabulary to enable clear communication among members of a project team.

I agree that we need something to understand common objects of a project. I have experienced annoying communication about understanding common objects. It made programming becomes more difficult.

when you use ICONIX Process, your goal is to produce an object-oriented design that you can code from.

For you who had learned Object-Oriented Programming (OOP), this ICONIX is pretty easy task, in my consideration. It might be beneficial for you to learn OOP. Maybe sometimes later you will be surprised that OOP help you in several programming projects.

The quoted texts are parts of this book.